November Rain
November Rain
Wienderum^_~011108
Suara gemercik di balik tembok itu semakin lama semakin keras. Ku lihat dari jendela derasnya air langit yang tumpah seakan ingin membasahi setiap sudut di bumi ini tanpa menyisakan setitikpun lahan kering. Jalan beraspal abu-abu tak lagi tampak, hijau rumputpun perlahan tenggelam dan hanya genangan air berwarna coklat yang tersisa.
Suara itu perlahan menjauh. Sesaat ketika semua tampak hitam putih, dunia menjadi pelangi. Aku melihat ruang tak terbatas di angkasa, warna hitam itupun perlahan beranjak pergi membuka pintu yang terhampar luas dengan goresan putih yang melukiskan berbagai wajah di kanvas biru itu. Kupejamkan mata dan kubiarkan hembusan nafas langit membelai wajahku. Aku menghirup segarnya wangi rumput basah setelah hujan reda.