Aku duduk di sebuah café sambil membaca “The Book of Lost things” di temani secangkir Tiramisu Latte walaupun sebenarnya aku lebih suka dengan Hot Cappuccino. Derasnya hujan pada saat itu membuatku sulit untuk pulang sehingga aku menunggunya hingga reda.
Sesaat percakapan seorang pria dan wanita di sampingku sepertinya menarik untuk disimak. Wanita itu berbaju pink dan yang pria berbaju biru. Pria itu datang sekitar 10 mnt setelah wanita itu. Tidak bermaksud untuk menguping, tapi jarak keduanya yang begitu dekat denganku membuat apa yang mereka bicarakan terdengar dengan sendirinya.
Sangat jelas kudengar ketika pria itu bertanya mengenai perubahan sikap wanita yang sedang duduk dihadapannya.
“Sulit untuk memulai ketika akan melakukan suatu sikap perubahan, seperti yg kau tunjukkan belakangan ini. Aku tak berdaya, dan kamu telah tahu akan diamku, demikian juga denganmu.
Diamku memberikan banyak arti,dan satu makna dari berbagai makna, diamku adalah kesetianku akan cahaya dirimu.”
Wanita di hadapannya hanya diam menyimak setiap kalimat yang diucapkan lelaki itu. Beberapa saat mereka tampak diam tanpa komunikasi hanya saling menatap dalam keheningan yang membalut mereka.
”Maaf”
Suara yang memecahkan keheningan diantara mereka dan menjadi kalimat pertama yang diucapkan wanita itu setelah hampir setengah jam mereka duduk di meja hijau dengan angka 7 yang tertulis di ujung kiri meja tersebut.
Tidak Jauh dari mereka, tepatnya di meja no.9 duduk seorang pria berbaju merah yang datang lebih awal dari mereka. Sama sepertiku pria itu juga terlihat tengah menyimak apa yang sedang mereka bicarakan tapi anehnya dia tidak sedang melihat kearah keduanya tapi lebih memandang kearah wanitanya saja.
Ya, sepertinya mereka memang saling mengenal karena ketika wanita itu datang mereka saling bertegur sapa layaknya teman lama yang sudah lama berpisah. Mereka sempat duduk di meja yang sama sampai akhirnya si wanita tadi pindah ke meja lain tepat di sampingku yang ternyata sebelumnya sudah di pesan atas nama seorang pria ketika seorang pelayan mempersilahkannya duduk di situ.
Tidak lama terdengar suara serak yang keluar dari pria yang tertunduk sesaat setelah wanita itu mengucapkan kata “maaf” di hadapannya
“Lihatlah, aku mulai membangun wadah untuk mengumpulkan cahayamu dan juga aku mulai membuka jalan itu. Ini semua kulakukan agar dapat kunikmati indahnya cahayamu. Namun entah mengapa ketika wadah itu telah kubuat, cahaya keindahanmu yang kudapatkan mulai berkurang”
Jujur aku sendiri tidak terlalu mengerti dengan apa yang dia ucapkan, tapi tentu saja itu tidak penting karena yang penting di sini adalah terlihat wanita di hadapannya menyimak dan mengerti setiap kata dari kalimat yang pria itu ucapkan
“Aku hanya mencoba melangkah di jalan yang terbentang di hadapanku. Jalan yang memang harus kulalui karena itu menjadi kehendak dan ketentuan-Nya. Aku terus berjalan ke depan dan entah kenapa langkahku sempat terhenti dan aku berbalik memandang ke belakang ke arah yang telah kulalui jauh sebelumnya tanpa aku harus berjalan mundur atau kembali kebelakang karena aku tahu jalan yang ada di hadapanku masih terbentang luas dan aku akan terus berjalan ke depan selagi aku masih diberi waktu untuk melewawatinya. Ya, Hanya itu ….”
Terdengar lembut kalimat yang di ucapkan si wanita. Suasana tersebut menjadi tontonan menarik dengan backsound lagu dari “Splender_I think god can explain yang di putar setelah lagu “The Script_tHe man who can’t be moved”. Wanita itu terus menatap pria yang ada di hadapannya dan sesaat tatapannya beralih ke pria berbaju merah yang dari tadi menatap dan melempar senyum ke arahnya. Beberapa detik sebelum ia membalas senyuman itu tatapannya beralih lagi ke arah wanita yang baru saja tiba dan langsung duduk tepat di kursi yang tadi dia duduki di meja no. 9 tempat pria berbaju merah itu duduk hampir satu jam yang hanya sibuk dengan fogging tembakau, secangkir kopi dan kentang goreng serta laptop di depannya sambil sesekali melemparkan pandangan ke arah jam 10 lebih tepatnya lagi ke arah wanita berbaju pink di sampingku. Aku melihatnya dengan sangat jelas karena pria berbaju merah itu mejanya tepat di depan mejaku dan arah duduk kami berhadapan hanya terpisah dua meja dan dua kursi di hadapan kami. Tatapannya sangat jelas hanya tertuju pada wanita di sampingku sampai akhirnya dia berpaling pada wanita cantik yang baru saja tiba dan duduk tepat di hadapannya. Wanita berbaju pink itu tersenyum pada mereka walaupun ia sadar keduanya tengah sibuk di dunia mereka tapi ia tetap ingin memberi senyuman itu lalu akhirnya kembali memandang ke arah yang lebih nyata di hadapannya. Pria berbaju biru menatapnya sambil tersenyum
“Bagaimana dengan dirimu, apakah kamu juga membuat wadah untuk menikmati terangnya cahaya pada galaxyku…?. Bila dirimu sama dengan cara yang telah kulakukan akan kubuat wadah khusus lagi, dan bilapun itu tidak…. Keindahan cahayamu akan tetap kusimpan dan kunikmati pada wadah yang kuat dan tersimpan pada setiap perputaran galaxymu”.
Ku dengar pria itu kembali berbicara padanya dan dia tertunduk beberapa detik lalu kembali menatap pria berbaju biru tanpa ekspresi
“Aku menjalani apa yang telah di tentukan-Nya untukku, ketika aku dihadapkan pada sesuatu bagaimanapun aku ingin jika Dia tdk berkehendak sekuat apapun aku mencoba aku takkan dimampukan begitupun sebaliknya ketika itu memang akan terjadi maka terjadilah….”
Kata wanita berbaju pink lalu kemudian tersenyum….
to be continue……