Dan bulan pun menatap langkahnya
Hentakan langkah kakinya
Perlahan
dia terus berjalan
cahaya bulan senantiasa menerangi langkahnya
dia tampak siaga saat awan mencoba menutupi cahaya itu
Dia hanya tak ingin cahaya yang menyinari beranjak dari langkahnya
Karena dia merasa ketika bulan menatapnya dia yang entah siapa juga menatapnya
Dan rasa itu selalu membuatnya tersenyum
Langkahnya melambat seakan dia tak ingin segera sampai ditujuan
Dia masih ingin terus menikmati tatapan itu
Sesaat langkahnya terhenti saat ruang fikirnya mencoba bergerak mundur
dan hatinya ikut berbicara
“Ajaibnya sang waktu, hari kemarin yang terlalui begitu saja lambat laun bisa menjelma menjadi kenangan, menjadi nostalgia romantik yang tak ingin dilupakan. Lalu apa yang kita ingat dari kenangan2 yang pernah hadir dari hidup kita, rasa senang, sedih akan selalu kita bawa tanpa pernah tercecer di sepanjang hidup kita dan semakin kita dewasa diantara kenangan-kenangan tersebut ada satu rasa yang selalu kita bawa. Rasa yang tak terlihat oleh mata, tak teraba oleh tangan tapi dia ada bahkan sejak di awal kita hadir di dunia. Rasa yang sederhana namun penuh daya cipta, tak dapat diabaikan dan ditolak kehadirannya. Rasa yang sejati, rasa yang kita kira sudah pergi ternyata cuma sembunyi tuk suatu saat kembali lagi….”
dan rasa itu adalah anugerah-Nya