duapuluhduamei02:09

……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………..Aku berbaring di tempat tidur beberapa menit kemudian,  menyerah saat kepedihan itu akhirnya muncul.

Hal ini benar-benar melumpuhkan, sensasi bahwa sebuah lubang besar menganga di dadaku, merenggut semua organ dan meninggalkan bekas luka yg masih tetap berdenyut nyeri meski waktu terus berjalan. Secara rasional aku tahu paru2ku masih utuh, namun aku megap-megap menghisap udara dan kepalaku berputar seolah-olah segenap usahaku sia-sia. Jantungku pasti juga masih berdetak, tapi aku tidak bisa mendengar detaknya di telingaku, tanganku terasa biru kedinginan. Aku meringkuk seperti bayi memeluk dada seperti memegang diriku agar tidak hancur berantakan. Aku berusaha menggapai perasaan kelu dan lumpuh, penyangkalanku, tapi perasaan itu meninggalkanku.

Meski begitu, kudapati bahwa ternyata aku bisa bertahan. Aku sadar, aku merasakan kepedihan itu-perasaan kehilangan yang terpancar keluar dari dadaku, mengirimkan gelombang kesakitan yang menghancurkan ke kaki, tangn dan kepalaku-tapi semua itu bisa kutahan. Aku bs melewatinya. Walaupun rasanya kepedihan itu tidak melemah seiring berjalannya waktu, tapi aku menjadi semakin kuat menahannya.

Apapun yg terjadi malam ini dan apapun penyebabnya, itu telah membangunkanku.

Untuk pertama kali dalam kurun waktu lama, aku tidak tahu harus mengharapkan apa esok pagi……

Aku bertanya-tanya berapa lama ini akan berlangsung. mungkin suatu saat nanti, beberapa tahun dari sekarang bila kepedihan itu mereda hingga ke tahap aku harus menanggungnya, aku akan bisa mengenang kembali beberapa bulan pendek yang akan selalu menjadi masa-masa terindah dalam hidupku. Dan jika kepedihan ini bisa cukup mereda hingga membuatku bisa berbuat begitu, aku yakin bisa merasa brsyukur atas waktu yang pernah ia berikan padaku. Lebih dari yang kuminta, lebih dari yang pantas kuterima. Mungkin suatu saat nanti aku bs melihatnya seperti itu.  (new moon)

Leave a Reply